นับต่อจากนี้ เราคือ Elev8
เราไม่ได้เป็นแค่โบรกเกอร์ แต่เป็นระบบนิเวศการเทรดครบวงจร ทุกสิ่งที่คุณต้องการในการวิเคราะห์ เทรด และเติบโตอยู่ในที่เดียว พร้อมยกระดับการเทรดของคุณหรือยัง?
เราไม่ได้เป็นแค่โบรกเกอร์ แต่เป็นระบบนิเวศการเทรดครบวงจร ทุกสิ่งที่คุณต้องการในการวิเคราะห์ เทรด และเติบโตอยู่ในที่เดียว พร้อมยกระดับการเทรดของคุณหรือยัง?
IHSG bergerak di 7.273,20 yang lebih rendah 1,43% dari penutupan hari kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia dibuka di 7.378,07 dan merayap turun selama satu jam pertama perdagangan ke terendah hari 7.263,20 sejauh ini. Indeks melanjutkan penurunan kemarin dan dalam perjalanan menuju menghapus semua penurunan yang terjadi selama minggu lalu. Pasar tampak mengabaikan kabar positif dari Realisasi Investasi di Indonesia serta laporan keuangan salah satu bank terbesar di Indonesia di tengah absennya tanda-tanda perdamaian Timur Tengah yang mengakibatkan tetap tingginya harga minyak dunia.
Indeks-indeks saham Indonesia merah pagi ini. INFOBANK15 (-2,06%) menjadi salah satu indeks yang mengalami penurunan besar sejauh sesi pertama Jumat ini yang ditekan oleh BDMN (-4,90%), AGRO (-3,13%), BBCA (-2,72%), dan lain-lain.
Para investor tampaknya mengabaikan laporan keuangan BBCA Kuartal I 2026 yang dirilis pasca penutupan pasar kemarin yang menunjukkan laba yang dapat diatribusikan ke entitas induk sebesar Rp14,68 triliun yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp14,14 triliun. Dalam siaran persnya perseroan menunjukkan total kredit BCA naik 5,6% pada basis tahunan sebesar Rp994 triliun per Maret 2026 dengan rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPF) masing-masing di 5,1% dan 1,8%.
Dalam keterangan pers Realisasi Investasi Kuartal I 2026 dan Implementasi Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KLBI) 2025 pada hari kemarin, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (RI), Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa Realisasi Investasi pada Kuartal I 2026 sebesar Rp498,79 triliun yang tumbuh 7,22% tahun-ke-tahun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 706.569 orang.
Beliau lebih lanjut mengklaim fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat saat momentum pertumbuhan ekonomi di kuartal pelaporan didukung konsumsi rumah tangga, penyaluran THR (Tunjangan Hari Raya), dan percepatan belanja negara via realisasi stimulus sebesar Rp809 triliun, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Dalam siaran pers juga disebutkan bahwa stabilitas ekonomi diperkuat BI-Rate di 4,75%, sembari menguraikan indikator-indikator ekonomi terbaru seperti PMI Manufaktur ekspansif di 50,1, surplus neraca perdagangan 70 bulan berturut-turut dengan cadangan devisa $148,2 miliar serta defisit APBN di 0,93% terhadap PDB (Produk Domestik Bruto).
Uang Beredar M2 Indonesia untuk Maret 2026 sebesar Rp10.355,1 triliun yang tumbuh 9,7% tahun-ke-tahun, ini lebih tinggi dari sebelumnya 8,7%. Bank Indonesia mencatat bahwa pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh tagihan ke Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit. Data yang dirilis pada hari kemarin menjadi data terakhir Indonesia untuk pekan ini. Data selanjutnya yang penting untuk pasar adalah data Investasi Langsung Asing yang diprakirakan dirilis pada hari Rabu pekan depan.
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia di 6,715% dan belum bergerak pada hari perdagangan terakhir pekan ini. Ini menyusul kenaikan imbal hasil yang sempat mencapai tertinggi hari di 6,744% kemarin, naik untuk dua hari berturut-turut.
Asia menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan menjadi tuan rumah bagi beberapa indeks pasar saham utama. Di antara negara-negara maju di kawasan tersebut, Nikkei Jepang – yang mewakili 225 perusahaan di bursa saham Tokyo – dan Kospi Korea Selatan menonjol. Tiongkok memiliki tiga indeks penting: Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, dan Shenzhen Composite. Sebagai negara berkembang yang besar, ekuitas India juga menarik perhatian investor, yang semakin banyak berinvestasi di perusahaan-perusahaan dalam indeks Sensex dan Nifty.
Ekonomi utama di Asia berbeda-beda, dan masing-masing memiliki sektor khusus yang perlu diperhatikan. Perusahaan teknologi mendominasi indeks di Jepang, Korea Selatan, dan semakin banyak di Tiongkok. Layanan keuangan memimpin pasar saham seperti Hong Kong atau Singapura, yang dianggap sebagai pusat utama sektor ini. Manufaktur juga besar di Tiongkok dan Jepang, dengan fokus kuat pada produksi mobil atau elektronik. Kelas menengah yang berkembang di negara-negara seperti Tiongkok dan India juga semakin menonjolkan perusahaan yang berfokus pada ritel dan e-commerce.
Banyak faktor yang mendorong indeks pasar saham Asia, tetapi faktor utama di balik kinerjanya adalah hasil agregat dari perusahaan-perusahaan komponen yang terungkap dalam laporan pendapatan triwulanan dan tahunan mereka. Fundamental ekonomi masing-masing negara, serta keputusan bank sentral atau kebijakan fiskal pemerintah mereka, juga merupakan faktor penting. Secara lebih luas, stabilitas politik, kemajuan teknologi atau supremasi hukum juga dapat memengaruhi pasar ekuitas. Kinerja indeks ekuitas AS juga merupakan faktor karena, lebih sering daripada tidak, pasar Asia memimpin dari saham-saham Wall Street dalam semalam. Terakhir, sentimen risiko yang lebih luas di pasar juga berperan karena ekuitas dianggap sebagai investasi yang berisiko dibandingkan dengan opsi investasi lain seperti sekuritas pendapatan tetap.
Berinvestasi dalam ekuitas itu sendiri berisiko, tetapi berinvestasi dalam saham Asia disertai dengan risiko khusus kawasan yang perlu diperhitungkan. Negara-negara Asia memiliki berbagai macam sistem politik, dari demokrasi penuh hingga kediktatoran, sehingga stabilitas politik, transparansi, supremasi hukum, atau persyaratan tata kelola perusahaan mereka mungkin sangat berbeda. Peristiwa geopolitik seperti sengketa perdagangan atau konflik teritorial dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham, seperti halnya bencana alam. Selain itu, fluktuasi mata uang juga dapat berdampak pada valuasi pasar saham Asia. Hal ini khususnya berlaku di negara-negara yang berorientasi ekspor, yang cenderung menderita karena mata uang yang lebih kuat dan mendapat keuntungan dari mata uang yang lebih lemah karena produk mereka menjadi lebih murah di luar negeri.